//DISKOMINFO-SGU//

SANGGAU – Bupati Sanggau, Paolus Hadi, S.IP, M.Si sekaligus selaku Ketua Damanwil Kalimantan Barat membuka secara resmi kegiatan musyawarah wilayah III Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Kalimantan Barat, dengan mengusung tema “Memperkuat eksistensi masyarakat adat dan sistem perladangan berkearifan lokal untuk kedaulatan pangan dan keberlanjutan kehidupan”, yang dipusatkan di Wisma Tabor Pusat Damai, Kecamatan Parindu, Jumat pagi (30/8/2019) pukul 09.00 WIB.

Hadir pada kesempatan tersebut, Kapolres Sanggau, AKBP.Imam Riyadi, S.Ik, MH, Sekjen Aman, Ruka Somboliggi, Direktur Institut Dayakologi, Krissusandi Gunui, Forkompimcam dan sebanyak 168 komunitas anggota Aman dari perwakilan Kabupaten se-Kalbar, diantaranya; Kabupaten Ketapang, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Landak, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Melawi, Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sanggau.

Pada kesempatan tersebut Ketua Panitia Abdias Yas menyampaikan selamat datang di Kabupaten Sanggau kepada perwakilan dari Kabupaten se-Kalbar yang sudah berkenan hadir pada kegiatan musyawarah masyarakat adat Kalbar wilayah III.

“Adapun tujuan dari kegiatan ini guna untuk bersinergi dan tetap solid untuk seluruh masyarakat adat Kalbar, juga untuk membicarakan isu-isu startegis, baik secara internal maupun eksternal yang berdampak baik untuk masyarkat adat,” jelas Ketua Panitia Abdias Yas.

Lebih lanjut, Direktur Institut Dayakologi, Krissusandi Gunui menyampaikan bahwa sebagai lembaga yang mewadahi harus memiliki sikap yang sigap dan respon.

“Sistem berladang menjadi sorotan disetiap tahunnya, dikarenakan bisa menyebabkan kabut asap, sehingga dilaranglah untuk para peladang untuk berladang. Dengan begitu maka bisa menghilangkan kearifan lokal masyarakat dalam berladang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (pangan),” katanya.

Dengan hal tersebut, Krissusandi Gunui mengatakan dengan melalui momen yang baik ini untuk menjadi perhatian bersama, yang mana soal melihat bagaimana keberadaan hak-hak hidup sebagai masyarakat adat yang semakin hari semakin berkurang, yang juga sebagai sumber kehidupan dan identitas sebagai masyarakat adat.

“Sehingga hal tersebut menjadi tantangan besar kita bersama, yang mana para generasi muda kita banyak yang tidak memahami dengan adat istiadatnya. Menyikapi hal tersebut maka peran kita sebagai orang tua untuk bisa mengimbagi dengan perkembangan zaman sekarang di era digitasl ini, sehingga para generasi kita tidak melupakan atas kearifan lokal dan adat istiadatnya,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Sanggau Paolus Hadi mengucapkan selamat datang di Kabupaten Sanggau kepada para peserta dari Kabupaten se-Kalbar dalam rangka mengikuti kegiatan musyawarah masyarakat adat.

“kita selaku masyarakat adat harus berdaulat dan berharap bagaimana kedepan masyarakat adat khususnya di Kalbar ini mampu bersaing hingga ditingkat Nasional,” harap PH sapaan akrab Bupati Sanggau.

Lanjut dikatakannya, selaku dari Pemerintahan selalu menjalin komunikasi dengan pihak kepolisian terkait pembakaran lahan dan hutan yang ada di Kabupaten Sanggau.

“Saya penasaran khususnya Kabupaten Sanggau ini berapa banyak masyarakat kita yang berladang. Sehingga saya rasa perlu di para Kades agar kedepan mempunyai database terkait masyarakat yang masih berladang,” ujarnya.

Bupati Paolus Hadi juga berharap dalam musyawarah tersebut dijalankan secara demokrastis, untuk kepentingan bersama.

“Adapun yang menjadi tantangan kita kedepan, yakni bagaimana masyarakat dapat memikirkan cara berladang dengan tidak membakar ladang, akan tetapi tidak mengurangi dari kualitas dan hasil berladang tersebut,”  tuturnya.

Pemukulan gong oleh Bupati Sanggau sebagai petanda musyawarah wilayah III Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Kalimantan Barat resmi dimulai.

Penulis         : Alfian