WABUP DAN SEKDA KUNJUNGAN SYUKURAN GAWAI DI DESA ENTAKAI 2017

GAWAI DI DESA ENTAKAI MERIAH

//Kardi //Diskominfo. Sgu//.
Sanggau, gawai nosu minu podi adalah merupakan ungkapan syukur pesta panen padi oleh masyarakat dayak kepada sang pencipta alam semesta, upacara adat ini secara turun temurun dari nenek moyang dulu hingga sekarang terus dilaksanakan apabila setelah panen padi dilaksanakan karena ini merupakan warisan adat budaya yg harus terus dijaga, dipertahankan dan dilestarikan agar tidak hilang di telan zaman di era modern ini, kemudian upacara gawai ini hampir setiap pelosok daerah yg ada di kalimantan barat oleh masyarakat dayak masih tetap mempertahankan dan melestarikannya, dan belum lama ini masyarakat setiap wilayah yang ada di Kabupaten Sanggau juga dari bulan mei lalu hingga bulan juli nanti setiap dusun maupun desa di setiap wilayah kecamatan melaksanakan gawai kemudian acara yang di dusun mau pun desa setiap wilayah kecamatan tersebut akan resmi di tutup pada gawai dayak tingkat kabupaten sanggau tanggal 7-7-2017 mendatang. apa bila setelah ditutup gawai di tingkat kabupaten maka masa gawai berakhir pula dan masyarakat harus fokus untuk bercocok tanam padi atau berladang kembali, selanjutnya pada jumat 23 juni 2017 kemarin masyarakat desa entakai kecamatan kapuas kabupaten sanggau telah merayakan syukuran gawai nosu minu podi dan tampak hadir dari pemerintah daerah yakni Wakil Bupati Sanggau yang sekali gus adalah ketua DAD Kabupaten Sanggau beserta rombongan skpd dilingkungan pemerintah kabupaten sanggau juga para pengurus DAD kecamatan kapuas turut serta dalam bersamaan merayakan syukuran panen padi tersebut dengan penuh kegembiraan, suka cita dan penuh kekeluargaan, wakil bupati sanggau Drs. Yohanes Ontot, M.Si, pada kesempatan yang baik tersebut berharap agar masyarakat semakin giat dlm bekerja guna meningkatkan ekonomi keluarga dan kedepan juga agar hasil panen padi masyarakat semakin meningkat n ekonomi masyarakat semakin baik, terlebih kepada masyarakat sanggau pada umumnya dan masyarakat entakai khususnya, jadi apapun sukunya agar selalu tetap menjaga, memelihara serta melestarikan adat budayanya masing-masing agar tidak punah oleh pengaruh-pengaruh budaya luar.