MTsN, SMAN 2 DAN SMAN 3 SANGGAU BERJANJI TIDAK AKAN MENJADI PELAKU BERITA HOAX

0 15

//DISKOMINFO-SGU//

SANGGAU, Digelar sosialiasi anti hoax dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kab.Sanggau ditingkat pelajar di MTsN, SMAN 2 dan SMAN 3 Sanggau, Selasa pagi (17/7/2018) pukul 08.00 WIB.

Kepala Diskominfo Kab.Sanggau Ir. Yulia Theresia dan Kasi Pengelolaan Informasi Publik Diskominfo Kab.Sanggau Ishak, S.Sos, M.AP selaku narasumber dalam sosialisasi anti hoax menyampaikan bahwa tujuan dari dilaksanakannya sosialisasi anti hoax ini adalah agar para pelajar jangan menjadi bagian pembuat berita hoax, penyebar atau pun korban dari berita hoax tersebut. Jika dulu ada istilah “mulutmu adalah harimaumu” maka hati-hati karena di zaman sekarang “jempolmu adalah harimaumu”. Hal ini disebabkan meningkatnya kamajuan teknologi membuat peningkatan dalam penyebaran informasi, dan ini juga membawa implikasi tersebarnya hoax secara lebih masif di masyarakat.

Adapun tujuan orang dalam memberikan berita hoax adalah untuk menipu, menebar kebencian, mengadu domba, mengundang simpatik. Untuk sasaran hoax sendiri mereka sampaikan kepada kelompok masyarakat awam yang latar belakangnya berpendidikan rendah, kelompok agama, suku, partai politik dan kelompok lainnya, maka dari itu agar Siswa Siswi SMP&SMA bisa melihat atau memilah mana berita hoax dan mana berita yang benar atau fakta, sehingga kita tidak terjadinya korban berita hoax tersebut dan juga jangan sampai kita menjadi pelaku hoax.

Adapun cara mengatasi berita hoax di social media yaitu dengan cara hati-hati dengan:

  • Judul provokatif

Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax. Oleh karenanya, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya Anda sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

  • Cermati alamat situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan. Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

  • Periksa fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat. Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

  • Cek keaslian foto

Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

  • Ikut serta grup diskusi anti-hoax

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci. Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Penulis: Izar

Anda mungkin juga berminat Berita lainnya dari penulis

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.